welcome to blog muhamad hafizh



welcome to blog muhamad hafizh

sebenar'a blog ini dibuat cuma iseng_iseng aja, dari pada gak ada waktu kan...
tempat baca berita terbaru, tips2, lirik lagu, dan lain-lain yang lebih seru, profil band dan jadwal event, dan profil komunitas-komunitas yg unik.

Sabtu, 16 April 2011

Pelaku Bom Cirebon Identik dengan Pelaku Bom Buku

INILAH.COM, Jakarta - Pelaku teror bom di Masjid Az-Ziqra Mapolresta Cirebon Kota, Jawa Barat, diduga sama dengan pelaku teror bom buku yang terjadi beruntun di Jakarta beberapa waktu lalu.

"Patut diduga begitu, karena pelaku ini menggunakan mekanik bom yang sama, maka kalau sama pasti ada koneksinya," ujar pengamat teroris Mardigu, kepada INILAH.COM, Sabtu (16/4/2011).

Yang berbeda antara teror bom Cirebon dengan bom buku, menurutnya adalah target yang tetapkan pelaku teror. Jika dalam teror bom buku targetnya adalah tidak membunuh, namun dalam bom Cirebon, teroris menargetkan untuk membunuh.

Mengapa melakukan teror di masjid, dan melukai sesama muslim? "Sasaran utama mereka bukan masjid dan umat muslimnya, tapi polisi, karena mayoritas yang salat di situ adalah polisi," katanya.

Sebagaimana diberitakan paket bom bunuh diri meledak di masjid lingkungan Mapolres Cirebon Kota, Jawa Barat, Jumat (15/4/2011) siang, saat berlangsung salat Jumat di masjid tersebut.

Kepala Polres Cirebon Kota AKBP Herukoco menjadi korban luka-luka akibat ledakan bom bunuh diri, yang dilakukan oleh seorang pria dengan membawa paket bom yangdiikatkan di perutnya. [lal]

Mabes Polri: Bom Cirebon Targetnya Polisi

VIVAnews – Letakan bom bunuh diri di Masjid yang terletak di komplek Markas Polres Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat, 15 April 2011, siang ini mengindikasikan bahwa polisi sudah menjadi target dari para pelaku bom.

Penegaskan itu disampaikan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri (Mabes), Inspektur Jenderal, Anton Bachrul Alam. Jika targetnya bukan polisi, “Kenapa dia harus masuk ikut salat?”Masjid itu memang tempat salat Jumat polisi di sana.

Pelaku peledakan bom itu tewas di dalam Masjid, sejumlah 25 orang diangkut dan dirawat di Rumah Sakit. Siapa pelaku bom yang tewas itu masih ditelusuri oleh kepolisian. Yang juga menjadi korban ledakan itu adalah Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar, Heru Koco. Dia kini sedang dirawat di Rumah Sakit Labuhan. Ledakan itu terjadi sekitar pukul 12.35 WIB, tepat saat salat Jumat baru dimulai.
• VIVAnews

teror bom cirebon 30 Orang Luka, 24 Diantaranya Polisi

DetikNews.com Jakarta - 30 Orang terluka dalam serangan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon. 24 Diantaranya adalah polisi. Sisanya PNS Polri dan warga yang ikut Salat Jumat.

"Dari 30 korban, 24 diantaranya adalah anggota Polri. 3 anggota PNS Polri, 1 pegawai honorer, 2 masyarakat," ujar Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Agus Rianto di Mapolres Cirebon Kota, Jalan Veteran, Kota Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/4/2011).

Agus menjelaskan rata-rata korban luka di bagian punggung, kaki, tangan dan kepala. Tergantung dengan posisi mereka saat Salat Jumat.

"Saat itu tergantung mereka dekat atau tidak dengan pelaku," katanya.

Saat ini 8 orang sudah diperbolehkan pulang dari RS dan menjalani rawat inap. Sementara 22 lainnya masih menjalani perawatan. Termasuk Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco, yang ikut menjadi korban.

"22 Orang masih dalam perawatan. 20 Orang di RS Pelabuhan, 1 di RS Pertamina, dan 1 di RS Gunung Jati," katanya.

Polisi masih mencari identitas pelaku bom bunuh diri yang tewas dalam serangan bom ini.

Ledakan terjadi pukul 12.15 WIB saat imam mengucapkan takbir (takbiratul ikhram) di awal salat Jumat. Ledakan berasal dari seorang pria berpakaian hitam di barisan dekat para pejabat Polresta. Diduga ledakan merupakan bom bunuh diri. Sejumlah korban terkena serpihan bom berupa paku. Tak hanya Kapolresta, Kasat Lantas Polres Cirebon dan imam salat Jumat pun menjadi korban.

(rdf/rdf)

Selasa, 05 April 2011

Ketika Melinda dan Selly Memilih Jalan Pintas

KOMPAS.com - Uang, kekuasaan, dan wanita (juga pria), menjadi kelemahan manusia. Manusia semakin terlemahkan ketika gaya hidup menjadi fokus dalam hidupnya. Kelemahan yang manusiawi ini membuat seseorang semakin terpuruk dalam hidupnya saat karakter dan integritas tak lagi dijaga. Inilah yang terjadi pada tersangka kasus dugaan pembobolan dana nasabah Citibank, Melinda Dee (47), maupun dugaan penipuan yang dilakukan Selly Yustiawati (25).

"Seseorang bisa mencapai puncak dengan kharisma, skill, dan pengetahuan. Namun seseorang hanya bisa bertahan di puncak kesuksesan karena memiliki karakter dan integritas," jelas motivator termuda di Asia, Bong Chandra, kepada Kompas Female.

Peristiwa dan tindakan kriminal yang dilakukan Melinda dan Selly, menunjukkan bagaimana kelemahan manusia membawa kedua perempuan ini terjerat dalam kasus hukum, sekaligus mencoreng reputasinya. Menurut Bong, individu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu cenderung tipikal orang yang senang dengan jalan pintas. Padahal jalan pintas berisiko tinggi, dan sesuatu yang didapatkan cepat maka akan cepat juga lenyapnya.

"Cepat di sini bukan ukuran waktu, berapa lama mendapatkan, tetapi lebih kepada cepat dalam mendapatkan sesuatu tersebut," jelas Bong.

Meskipun memahami bahwa jalan pintas berisiko, menurutnya, seseorang masih saja menjalaninya karena memang uang, kekuasaan, dan wanita (pria) bisa melemahkan seseorang. Jalan pintas kerapkali dipilih mencapai "sukses", karena fokus individu lebih kepada pemenuhan gaya hidup bukan kepada upaya menjadikan dirinya sejahtera dan bahagia.

"Fokus orang yang menghalalkan segala cara lebih kepada lifestyle, bukan wealth," lanjutnya.

Lebih jauh Bong menjelaskan, seseorang yang fokus pada gaya hidup, cenderung terjebak kesenangan. Sementara, milyuner sejati justru memiliki gaya hidup yang tak berlebihan. Ia lalu berkisah bagaimana penulis buku The Millionaire Next Door mewawancara 300 milyuner di Amerika untuk bukunya. Hasilnya, ditemukan bahwa orang kaya suka menawar harga, membeli barang diskon, membeli mobil bekas atau mobil Jepang atau Korea yang lebih murah daripada mobil Eropa.

"Hasil wawancara ini menampar paradigma yang ada, bahwa orang kaya punya gaya hidup yang tidak bagus. Sementara, mereka yang fokus pada gaya hidup, terlihat kaya namun berutang, korupsi, dan memiliki utang kartu kredit. Sebaliknya, orang kaya memiliki gaya biasa saja namun memiliki banyak properti dan berbagai bisnis," jelas Bong.

Kasus yang terjadi pada Melinda dan Selly, kata Bong, menjadi pembelajaran bagi semua orang yang punya kelemahan yang sama. Karenanya, tugas anak muda di antaranya belajar menunda kesenangan dan jangan terjebak di dalamnya, tegas Bong.

"Kejarlah penderitaan sementara dan tunda kesenangan. Kita harus fokus dengan hasil akhir sambil menikmati proses, tetapi jangan fokus pada proses. Misalnya, tak harus mengganti motor ke mobil, tak apa menderita sementara, asalkan cicilan properti terbayarkan. Berhemat dua tahun, misalnya, dengan masih berkendara motor tetapi di sisi lain properti terbayarkan," Bong menyontohkan.

Agar menikmati proses, sesulit apapun kondisinya, seseorang perlu melihat proses tersebut sebagai cara bertumbuh sebagai manusia.

"Saat Anda merasa tak nyaman dengan suatu kondisi, itulah saatnya Anda bertumbuh sebagai manusia. Ketidaknyamanan sama dengan pertumbuhan. Ini caranya menikmati proses. Sementara kenyamanan membuat seseorang tidak bertumbuh. Korupsi membuat sebagian orang nyaman namun ia tidak bertumbuh," tandasnya.